KARAWANG — Membangun sumber daya manusia yang unggul merupakan tanggung jawab bersama. Upaya tersebut tidak hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, satuan pendidikan, pesantren, tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat.
Semangat kolaborasi tersebut terlihat dalam kegiatan sosialisasi fasilitasi teknis Kemendukbangga/BKKBN bersama Anggota Komisi IX DPR RI, dr. Hj. Cellica Nurrachadiana, M.H.Kes., di Pondok Pesantren Miftahurrohman, Kabupaten Karawang.
Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat pemahaman mengenai ketahanan keluarga, kesehatan, pemenuhan gizi, pencegahan stunting, serta pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Dr. Hj. Cellica Nurrachadiana atau Teh Celly menekankan bahwa keluarga merupakan fondasi penting dalam membentuk kualitas generasi. Namun, penguatan keluarga menurutnya tidak dapat dilakukan sendirian. Dibutuhkan dukungan lingkungan dan kebijakan yang memungkinkan setiap keluarga memperoleh akses terhadap informasi, pelayanan, serta pendampingan yang dibutuhkan.
“Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang terencana dan mendapatkan dukungan dari lingkungannya. Karena itu, edukasi mengenai pola asuh, pemenuhan gizi seimbang, kesehatan, serta perencanaan keluarga perlu terus kita hadirkan secara terbuka dan mudah dipahami masyarakat,” ujar Teh Celly.
Menurutnya, setiap anak memiliki hak untuk tumbuh sehat, memperoleh pendidikan, mendapatkan pengasuhan yang baik, serta berkembang sesuai potensinya. Karena itu, pencegahan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan harus dimulai sejak dini dengan melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar.
Kepala BKKBN Provinsi Jawa Barat, Dr. Dadi Ahmad Roswandi, S.Si., M.Si., turut memberikan edukasi mengenai pentingnya perhatian terhadap seribu hari pertama kehidupan. Fase tersebut menjadi periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga membutuhkan perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan gizi, sanitasi, serta pola pengasuhan.
Pesantren juga menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Sebagai ruang pendidikan sekaligus tempat beraktivitas dan berinteraksi para santri, lingkungan pesantren perlu didukung dengan fasilitas kebersihan dan kesehatan yang memadai.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan santri, bantuan fasilitas kesehatan turut diserahkan kepada tiga pondok pesantren di wilayah Kabupaten Karawang. Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu pengelola pesantren memperkuat penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS.
“Santri adalah bagian dari generasi penerus bangsa. Mereka berhak memperoleh lingkungan belajar yang sehat dan nyaman. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan pesantren merupakan bagian dari investasi terhadap masa depan,” ungkap Teh Celly.
Pendekatan inklusif dalam pembangunan kesehatan juga berarti memastikan setiap unsur masyarakat memiliki kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan dukungan yang dibutuhkan, tanpa membedakan latar belakang sosial, ekonomi, maupun lingkungan pendidikan.
Kolaborasi pemerintah dan DPR RI bersama masyarakat diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat berlanjut menjadi gerakan bersama. Keluarga, pesantren, kader, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, dan pemerintah dapat saling memperkuat dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan serta perkembangan generasi muda.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Plt. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Karawang, Drs. Imam Alhusaeri Bahanan, M.M., serta tokoh dan undangan dari Pondok Pesantren Miftahurrohman.
Dari Karawang, pesan yang dibawa sederhana namun bermakna: membangun Indonesia yang kuat dimulai dengan memastikan setiap keluarga memiliki kesempatan untuk tumbuh, setiap anak mendapatkan dukungan yang layak, dan setiap lingkungan pendidikan mampu menjadi ruang yang sehat, aman, serta inklusif bagi generasi penerus bangsa.
