BANDUNG – Rapat Kerja Nasional Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia di Bandung, Jawa Barat, pada dua puluh delapan hingga tiga puluh Juli dua ribu dua puluh enam, menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran perempuan cendekia dalam membangun peradaban, memperkuat pendidikan, memberdayakan masyarakat, serta menghadirkan gagasan yang memberi manfaat nyata bagi bangsa.
Di tengah forum nasional tersebut, amanah baru dipercayakan kepada Dr. Arfiani Rizki Paramata sebagai Ketua Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Provinsi Gorontalo. Pelantikan tersebut bukan semata pergantian kepemimpinan organisasi, melainkan momentum untuk membawa gagasan besar tentang perempuan berilmu yang mampu menjadikan kecendekiaan sebagai energi pengabdian.
Bagi Dr. Arfiani Rizki Paramata, amanah tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menjalankan struktur organisasi. Kepemimpinan di Alisa “Khadijah” dipandang sebagai ruang untuk menerjemahkan ilmu, keteladanan, kemandirian, dan kepedulian sosial menjadi gerakan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat Gorontalo.
Semangat itu sekaligus diletakkan dalam bingkai keteladanan Ibu Ainun Habibie, sosok perempuan cendekia yang meninggalkan jejak kuat melalui kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, pendidikan, keluarga, kemanusiaan, serta pengabdian. Bagi Dr. Arfiani, membawa amanat Ibu Ainun Habibie berarti menjaga sebuah pesan moral bahwa kecerdasan dan kecendekiaan akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam karya dan kemanfaatan.
“Saya membawa amanat Ibu Ainun Habibie. Mengikuti jejak Khadijah bukan sekadar meneladani sebuah nama, tetapi memahami nilai dan perjuangan yang terkandung di dalamnya. Khadijah adalah simbol perempuan yang memiliki keteguhan, kecerdasan, kemandirian, keberanian, dan kepedulian untuk memberikan manfaat bagi sesama,” demikian refleksi kepemimpinan Dr. Arfiani Rizki Paramata.
Menurutnya, nama “Khadijah” yang melekat pada organisasi tersebut memiliki pesan peradaban yang kuat. Sayyidah Khadijah merupakan figur perempuan yang tidak hanya dikenal karena keteguhan iman dan akhlaknya, tetapi juga karena kapasitas, kemandirian, keberanian, serta dukungannya terhadap perjuangan dan kemaslahatan umat.
Karena itu, mengikuti jejak Khadijah tidak dimaknai sebagai upaya meniru sosoknya secara literal, melainkan menghidupkan nilai-nilai luhur yang relevan dengan tantangan zaman. Perempuan masa kini dituntut mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, membangun kemandirian, memperkuat keluarga, memberdayakan masyarakat, serta mengambil peran strategis dalam pembangunan tanpa kehilangan pijakan moral dan kemanusiaan.
“Bagi saya, menjadi bagian dari Alisa ‘Khadijah’ adalah sebuah amanah. Kita ingin perempuan tidak hanya hadir sebagai objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang mampu melahirkan gagasan, mengambil peran, membangun kolaborasi, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan perempuan bukan sekadar sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi sebagai kekuatan intelektual, sosial, ekonomi, dan moral yang ikut menentukan arah kemajuan daerah. Dalam perspektif inilah Alisa “Khadijah” diharapkan menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, kompetensi, dan kepedulian perempuan dari berbagai latar belakang.
Di Gorontalo, Dr. Arfiani Rizki Paramata membawa visi agar Alisa “Khadijah” tumbuh sebagai organisasi yang terbuka, produktif, inklusif, sekaligus memiliki daya pengaruh yang nyata. Akademisi, profesional, pendidik, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, tokoh masyarakat, komunitas perempuan, hingga generasi muda diharapkan dapat menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang saling menguatkan.
Orientasi kepemimpinan pun diarahkan agar organisasi tidak berhenti pada agenda seremonial. Pendidikan, literasi, pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ketahanan keluarga, serta pemanfaatan teknologi secara positif menjadi ruang strategis yang dapat dikembangkan sebagai bentuk pengabdian.
Dalam kerangka tersebut, nilai-nilai keteladanan Ibu Ainun Habibie dan semangat Sayyidah Khadijah menemukan titik temu yang kuat: perempuan berilmu tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi menjadikan pengetahuan, kapasitas, dan kehidupannya sebagai jalan untuk menghadirkan kemaslahatan.
Dr. Arfiani juga menempatkan kolaborasi sebagai fondasi penting dalam menjalankan amanah. Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Provinsi Gorontalo diharapkan mampu membangun sinergi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, komunitas perempuan, generasi muda, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Kita tidak ingin membangun organisasi yang hanya kuat secara struktur, tetapi lemah dalam manfaat. Ukuran keberhasilan kepemimpinan adalah ketika gagasan dapat menjadi karya, karya dapat dirasakan masyarakat, dan keberadaan organisasi mampu melahirkan perubahan yang baik. Itulah semangat yang ingin kami bangun di Gorontalo,” ungkapnya.
Dengan perspektif tersebut, Rapat Kerja Nasional Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia di Bandung tidak sekadar menjadi forum konsolidasi organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi ruang untuk menyatukan visi, memperkuat jejaring, dan meneguhkan kesadaran bahwa perempuan cendekia memiliki tanggung jawab historis dalam menghadirkan perubahan sosial yang konstruktif.
Dari Bandung menuju Gorontalo, amanah Dr. Arfiani Rizki Paramata membawa pesan yang lebih luas: bahwa kepemimpinan perempuan harus bertumpu pada ilmu, integritas, keteladanan, keberanian, kemandirian, dan kebermanfaatan.
Membawa amanat Ibu Ainun Habibie berarti menjaga spirit bahwa kecendekiaan tidak boleh berhenti sebagai pengetahuan. Ilmu harus menjelma menjadi karya, karya harus menghadirkan manfaat, dan manfaat harus mampu dirasakan oleh masyarakat.
Sementara mengikuti jejak Khadijah berarti menghidupkan kembali nilai tentang perempuan yang berilmu, berintegritas, mandiri, tangguh, berani mengambil peran, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kemaslahatan umat.
Di titik itulah kepemimpinan Dr. Arfiani Rizki Paramata di Alisa “Khadijah” Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Provinsi Gorontalo menemukan makna strategisnya. Bukan sekadar memimpin organisasi, melainkan menghidupkan nilai, membangun jejaring, melahirkan karya, dan menjadikan perempuan sebagai kekuatan penting dalam perjalanan pembangunan daerah.
Sebab pada akhirnya, mengikuti jejak Khadijah bukan semata berbicara tentang siapa sosok yang diteladani, tetapi tentang nilai apa yang diwariskan, bagaimana nilai itu dihidupkan, dan seberapa besar manfaatnya bagi generasi hari ini dan masa depan.
