Oleh: Swarajabar.id
BEKASI — Di sela-sela gemerlap pusat perbelanjaan dan deru kendaraan di jalan tol yang membelah Kabupaten Bekasi, tersembunyi realitas lain. Ada anak-anak yang setiap pagi hanya bisa terdiam di sudut rumahnya, menatap langit-langit, menahan sesak di dada ketika mendengar suara lonceng sekolah dari kejauhan. Bagi mereka, bangku sekolah bukan sekadar tempat belajar—melainkan istana kaca yang tampak begitu dekat, namun terasa begitu jauh.
Angka berbicara. 37.718 anak di Kabupaten Bekasi tercatat sebagai Anak Tidak Sekolah (ATS). Tidak karena mereka malas. Tidak karena mereka tidak cerdas. Mereka berhenti belajar karena kantong kosong dan perut lapar adalah musuh yang lebih nyata dibanding buku dan pulpen. Mereka adalah generasi yang nyaris kehilangan masa depannya, bukan karena takdir, melainkan karena negara terlalu sibuk berhitung dan lupa mendengar.
Namun di tengah gelap itu, ada secercah cahaya yang enggan padam. Sosok H. Hasan Basri, atau yang lebih dikenal dengan panggilan hangat Gus Hasan, muncul bukan sebagai politikus yang berpidato di balik meja marmer, melainkan sebagai seorang abang yang turun ke lorong-lorong sempit, menyapa ibu-ibu yang lelah, dan menepuk pundak anak-anak yang hampir menyerah dengan kehidupannya.
—
“Mereka Bukan Angka, Mereka Adalah Masa Depan Kita”
Suara Gus Hasan bergetar ketika ia berbicara di Kantor DPRD Kabupaten Bekasi, Selasa (21/7/2026). Matanya berkaca-kaca. Bukan karena panggung, melainkan karena ia baru saja kembali dari kunjungan lapangan, menyaksikan langsung bagaimana seorang gadis kecil harus memilih antara membeli buku atau membeli nasi untuk adiknya.
“Pendidikan adalah pintu peradaban. Jika kita menutup pintu itu bagi anak-anak miskin, maka kita sedang membangun penjara bagi masa depan bangsa kita sendiri,” ucapnya, dengan nada yang lirih namun menggetarkan.
Gus Hasan tidak hanya berbicara. Ia bergerak. Dengan gigih, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk segera merealisasikan Sekolah Rintisan Kabupaten Bekasi, sebuah ide mulia yang lahir dari Kepala Dinas Pendidikan, Iman Faturochman. Program ini dirancang khusus untuk memastikan bahwa tidak ada lagi anak yang putus sekolah hanya karena tidak punya biaya.
Bagi Gus Hasan, konsep ini adalah bentuk cinta negara kepada rakyatnya yang paling lemah. Ia menginginkan agar APBD Kabupaten Bekasi tidak hanya habis untuk proyek beton dan aspal, tetapi juga untuk menanam benih-benih masa depan melalui pendidikan gratis yang bermartabat.
—
Menyulam Kolaborasi, Menebar Harapan
Gus Hasan meyakini bahwa perubahan besar tidak bisa dihadirkan sendirian. Karena itu, ia menyerukan sinergi antara tiga program yang jika digerakkan beriringan akan menjadi kekuatan dahsyat dalam memerangi kebodohan:
· Sekolah Rintisan Kabupaten Bekasi, sebagai benteng pertama yang berdiri kokoh dengan biaya dari APBD untuk menampung anak-anak yang paling membutuhkan.
· Sekolah Maung dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang menjadi sayap bagi anak-anak berbakat dari keluarga miskin agar bakat mereka tidak mati sia-sia.
· Sekolah Rakyat dari Pemerintah Pusat, yang hadir sebagai pelukan hangat negara bagi anak-anak miskin ekstrem melalui pendidikan asrama yang menyeluruh.
“Ini bukan sekadar program. Ini adalah manifesto kemanusiaan,” tegas Gus Hasan. “Bayangkan jika ketiganya berjalan beriringan. Maka tidak akan ada lagi anak di Bekasi yang hanya bisa pasrah dan berbisik, ‘Pak, apakah saya tidak pantas untuk pintar?'”
—
Sebuah Janji yang Harus Diwujudkan
Sebagai anak rakyat yang kini duduk di Komisi IV DPRD, Gus Hasan berjanji untuk tidak pernah lelah mengawal setiap rupiah APBD yang dialokasikan untuk pendidikan. Ia mengingatkan bahwa Rp111,2 miliar yang dianggarkan untuk pembangunan sekolah dan rehabilitasi sarana di APBD 2026 bukanlah angka mati. Itu adalah nyawa bagi ribuan anak yang selama ini hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian.
“Anak-anak ini tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh kepastian. Mereka butuh kita semua untuk bergerak, bukan hanya berbicara,” katanya penuh haru.
Di akhir perbincangan, Gus Hasan menatap jauh ke luar jendela, seolah melihat wajah-wajah kecil yang menunggu di kejauhan. “Saya ingin kelak, ketika mereka tumbuh dewasa, mereka tidak bertanya, ‘Di mana negara saya saat saya membutuhkannya?’ Saya ingin mereka tersenyum dan berkata, ‘Negara saya datang tepat waktu, dan saya bangga menjadi bagian dari bangsa ini.'”
—
Inspirasi untuk Kita Semua
Kisah Gus Hasan adalah pengingat bahwa di dunia yang sering kali begitu sibuk mengejar angka dan keuntungan, masih ada hati yang peduli. Masih ada orang-orang yang memilih untuk turun ke bawah, bukan naik ke atas. Perjuangannya adalah cermin bagi kita semua: bahwa keadilan bukanlah sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata untuk memastikan bahwa setiap anak, sekaya atau semiskin apa pun latar belakangnya, berhak atas masa depan yang cerah.
Karena pada akhirnya, sebuah peradaban tidak diukur dari seberapa tinggi gedung-gedungnya berdiri, melainkan seberapa kuat komitmennya untuk mengangkat yang lemah dan mencerdaskan yang kecil. Gus Hasan telah memulainya. Kini giliran kita untuk mendukung dan mengawal, agar mimpi-mimpi kecil itu tak lagi tinggal mimpi.
—
Selamat berjuang, Gus Hasan. Selamat berjuang untuk anak-anak Bekasi.
Mereka layak untuk menang.
